Oleh : Maghfirah Taufiqa
Cinta
adalah Fitrah, dan setiap anak adam pasti pernah merasakan namanya cinta. Baik
tua maupun muda. Bahkan Nabi, para ulama dan orang shalih sekalipun pernah
jatuh cinta.
Jatuh cinta
itu perkara mubah dan bukanlah suatu dosa sebab ia adalah hal yang manusiawi
dan naluri yang ada bagi setiap manusia normal. Termasuk para muslimah yang
tertutup, pemalu, jarang berkomunikasi dengan ikhwan sekalipun juga merasakan
perasaan cinta. Tetapi, ketika seorang muslimah telah jatuh cinta, ia malah
merasa takut dan gelisah, karena bisa jadi perasaan itu hanya ujian baginya. Ia
merasa bersalah karena telah menaruh hati pada seseorang yang belum halal
baginya. Namun terkadang tak dapat di pungkiri memang bahwa perasaan itu datang
tiba-tiba tanpa di undang. Hingga kadang kita terpedaya dengan rasa itu dan
lupa kepada pemberi rasa. Cinta tidak salah dan tidak ada yang salah dari
cinta. Namun bagaimana cara mengekspresikan cinta itu, dengan cara yang Allah
Ridho atau dengan cara yang Allah Murkai. Berapa banyak muda-mudi zaman
sekarang yang terlibat pacaran bahkan sampai berzina. Naudzubillah. Apakah seperti itu cinta? Tidak! Cinta seharusnya
saling menjaga karena Allah, bukan malah melakukan sesuatu yang di larang
olehNya.
Perkara
Menjaga hati itu memang sebuah perjuangan yang tak terkira sulitnya. Terlebih
bagi aktivis dakwah, terkadang tidak lepas dari yang namanya VMJ (Virus Merah
Jambu). Virus-virus itu kian bertebaran di kalangan ikhwan dan akhwat. Kenapa
itu bisa terjadi? Karena hijab itu tidak lagi kita jaga, interaksi antara
ikhwan akhwat kian mencair dan ikhtilat pun terjadi dimana-nama. Namun itu
adalah sebuah paranorma yang sulit kita cegah karena sudah hampir mewabah ke
setiap penjuru. Maka yang harus kita lakukan adalah membentengi diri dengan
iman. Sebab ia adalah pemisah antara yang haq dan yang batil. Namun bukanlah
hal yang terlarang bagi seorang ikhwan dan akhwat jatuh cinta, itu normal.
Terkadang seorang akhwat bisa kagum dengan seorang ikhwan karena kesholehannya,
kewibawaannya, santunnya akhlaknya. Dan itu adalah hal yang wajar. Asalkan rasa
itu tidak berlebihan dan tidak menyalahi aturannya.
Ketika
akhwat sudah terlanjur menaruh hati kepada ikhwan akan sulit untuk
menghilangkan rasa itu. Apalagi jika ikhwan itu benar-benar ikhwan idamannya.
Terlebih jika ia tahu bahwa ikhwan itu juga menyukainya. Ah rasanya hatinya
kian berbunga-bunga. Namun jika ternyata ikhwan yang dia sukai itu menyakitinya
atau menyukai akhwat lain ia pasti akan patah hati. Begitulah seorang akhwat,
perasaannya begitu rentan dan hatinya begitu rapuh. Karena akhwat lebih dominan
memakai perasaan daripada ikhwan. ketika akhwat sudah patah hati itu adalah
sebuah bencana baginya. Berapa banyak akhwat yang rapuh hanya gara-gara ikhwan
bahkan ada akhwat yang sudah berhijrah dan memakai hijab syar’i kemudian
menanggalkan hijab syar’i nya hanya gara-gara terobsesi dengan ikhwan.
Duhai
muslimah, Berhati-hatilah dengan cinta!
Sebab ia bisa
menjadi racun yang berbalut dengan madu. Awalnya terasa manis tetapi lama
kelamaan bisa mematikan. Itulah cinta yang tidak di tempatkan sesuai dengan
syariatNya. Jangan terlalu terpesona dengan ikhwan yang bagus tampangnya, suka
memuji bahkan sampai memberi janji-janji. Karena bisa saja itu hanya modus. Ingat,
ikhwan sholeh tidak akan pernah mempermainkan wanita, dia pasti akan
memuliakannya. Dan ikhwan sejati tidak akan memberi janji-janji tetapi memberi
kepastian. Kalau ada ikhwan yang menyatakan bahwa dia mencintaimu tetapi tidak
ingin menikahimu itu hanyalah omong kosong. Sebab bukti cinta hanyalah dengan
menikah. Sebagaimana sabda Rasulullah “Tidak ada obat bagi dua orang yang
saling mencintai selain menikah”
Namun
bagaimana jika belum mampu untuk menikah. Maka bersabarlah dan berpuasa serta
mohonlah pada Allah agar di jauhkan dari hal-hal yang di larangnya.
“Dan
orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (‘Iffah
diri)-nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karuniaNya.” (Q.S An. Nuur:
33)
Ketika
Muslimah jatuh cinta, ia seharusnya bisa menjaga perasaan itu agar rasa itu
tidak menjadi fitnah.
Ketika
Muslimah jatuh cinta, ia seharusnya semakin taat kepada Allah karena takut
terjerumus kedalam maksiat.
Ketika
muslimah jatuh cinta, ia seharusnya menjauhi hal-hal yang di larang olehNya
Karena
seorang muslimah punya Izzah dan Iffah yang harus selalu di jaga. Seorang
muslimah harus punya rasa malu dan tidak berlebihan ketika di depan ikhwan.
Tidak genit, kecentilan, apalagi berusaha untuk menggoda ikhwan yang
disukainya. Jika seorang muslimah tidak lagi punya rasa malu dan tidak lagi
bisa menghargai dirinya, maka bagaimana ia bisa dihargai oleh laki-laki? maka pandai-pandailah menjaga, sebab se-shalihah apapun seorang wanita ia tetap akan menjadi fitnah bagi laki-laki. Dan tempatkanlah cinta itu pada tempatnya, agar selamat dan tidak salah arah.
Cinta adalah anugerah
Merasakannya adalah fitrah
Menjaganya adalah ibadah
Karena jatuh cinta adalah mudah
Namun menyikapinya bisa menjadi pahala berlimpah
Atau malah menjatuhkan kita ke dalam dosa dan musibah
Karena cinta itu anugerah luar biasa
Aku memilih memuliakan cinta
Menjauhkannya dari cara-cara nista
Dan meletakkannya sesuai aturan sang pencipta
Kau tau?
Tidak mudah menjadi sesosok Khadijah yang memilih untuk maju lebih dulu kepada
nabi Muhammad
Kenapa
beliau bisa seberani itu? Karena beliau takut cinta itu akan menjerumuskannya
dan beliau memilih untuk menjaga cinta itu dalam ikatan yang halal.
Bagaimana
jika seandainya Khadijah memilih diam dan menunggu Nabi Muhammad, atau beliau
berpikir jika Muhammad tidak melamarnya maka pasti akan ada laki-laki yang
datang melamarnya dan lebih baik dari Muhammad. Beliau pasti tidak akan pernah
menemukannya sampai kapanpun. Karena siapa laki-laki yang lebih baik dan lebih
hebat dari nabi Muhammad? Tidak ada! Bahkan sampai kiamatpun tidak ada lagi
yang bisa menandingi beliau. Maka ibunda Khadijah tidak berpikir dua kali dan
tidak mau menunggu tetapi beliau langsung maju untuk melamar Nabi Muhammad
melalui sahabatnya.
Maka
jikalau ada ikhwan yang kita ridho agama dan akhlaknya. Tidak masalah jika
akhwat mengutarakannya lebih dulu, itu bukan suatu hal yang tercela. Karena
jikalau kita sudah menemukan seorang ikhwan yang baik agamanya dan sesuai
dengan kriteria kita, lalu kemudian kita berpaling dan mencoba mencari yang
lebih baik darinya, kita mungkin tidak akan menemukannya lagi.
Ketika
jatuh cinta kita di hadapkan oleh pilihan-pilihan. Mau berjuang ataukah mundur?
Dan setiap insan punya cara berjuang masing-masing dan punya jalan cinta nya
masing-masing. Ada yang berjuang dalam diam, ada yang berjuang dengan doa, ada
yang berjuang dengan memantaskan diri dan ada yang berjuang dengan langsung
maju.
Seperti
kisah Ali dan Fatimah yang berjuang dalam diam. Mereka sama-sama saling
mencintai namun saling menjaga dalam taat. Ketika Fathimah di pinang oleh
lelaki yang luar biasa imannya, Abu Bakar Ash-Siddiq. Ali pun merasa di uji,
namun ia merasa tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Abu Bakar. Maka ia pun
mengutamakan Abu Bakar. Tetapi ternyata lamaran Abu Bakar di tolak. Betapa
bahagianya Ali, namun ternyata ujian itu belum berakhir. Ternyata umar yang di
juluki Al-Faruq pun datang melamar Fatimah. Maka Ali pun Ridha. Ternyata
lamaran Umar pun ditolak.
Ali pun
memberanikan diri menghadap Sang Nabi dan menyampaikan keinginannya untuk
melamar Fathimah, Putri kesayangan Rasulullah. “Engkau Pemuda sejati Wahai
Ali!, Ahlan Wa Sahlan!” Kata
Rasulullah sambil tersenyum.
“Cinta tak
pernah meminta untuk menanti, ia mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Ia
adalah keberanian atau pengorbanan” (Ali Bin Abi Thalib)
Ya beitulah
sosok pemuda sejati, layaknya Ali bin Abi Thalib. Ia tak pernah meminta
Fathimah untuk menanti, ia tak pernah memberikan janji-janji pada Fathimah.
Tetapi ia terus memantaskan diri hingga layak untuknya. Walaupun hanya
bermodalkan baju besi tetapi ia berani maju untuk melamar Fathimah. Itulah
Keberanian sejati!
Berapa
banyak ikhwan yang meminta akhwat untuk menunggu dan setelah akhwat itu
menunggunya ternyata ia malah menikah dengan akhwat lain. Bisa di bayangkan
betapa sakitnya hati akhwat tersebut. Tidak mudah bagi seorang akhwat untuk
menunggu, karena dalam menunggu terkadang hatinya di landa cemas, gelisah,
gundah. Dalam hatinya terus bertanya-tanya benarkah laki-laki yang dia tunggu
benar-benar serius dengannya? Benarkah ia akan datang untuk melamarnya? Ketika
akhwat sudah jatuh cinta kepada seorang ikhwan ia sanggup menunggu ikhwan itu
sampai beberapa tahun sekalipun, sebab tak mudah baginya untuk membuka hati
kepada sembarang ikhwan. Ya menunggu adalah sebuah pilihan, dan tidak salah
jika kita menunggu seorang ikhwan yang kita anggap sholeh dan baik agamanya.
Namun jangan sampai terlalu berharap padanya sebab jika kita terlalu berharap
maka kita akan kecewa.
Berharaplah
hanya pada Allah. Zat yang tak akan pernah mengecewakan hambanya. Jika memang
kita tidak bisa bersama dengan orang yang selama ini kita harapkan maka Allah
pasti akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Tidak mungkin jika kita
mengharapkan ikhwan yang sholeh namun Allah memberikan seseorang yang buruk
agamanya, suka mabuk-mabukan dll. Percayalah bahwa Allah tidak akan mendzalimi
hambanya. Allah pasti akan memberikan yang sesuai dengan kita, karena jodoh
adalah cerminan diri. Yang harus kita lakukan adalah memantaskan diri agar
layak untuk diberikan pasangan yang baik.
““Perempuan yang keji adalah untuk laki-laki
yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula. Perempuan
yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk
perempuan yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)
Percayalah
dengan janji Allah. Bahwa Allah tidak akan mengecewakan orang yang taat
padaNya, orang yang selalu menjaga dirinya dari hal-hal yang Allah murkai. Yang
harus kita lakukan adalah taat dan berserah diri pada Allah, selanjutnya
biarkanlah skenario Allah yang mengaturnya. Segala sesuatu akan indah pada
waktu yang telah Dia tentukan. Kita hanya perlu bersabar menanti ketentuanNya
dan menerimanya dengan penuh keikhlasan. Tunggulah cinta itu dengan ketaatan
agar orang yang taat menjemputmu dengan cinta. Cintai Allah dan RasulNya
terlebih dahulu agar Allah mengirimkan seseorang yang juga mencintai Allah dan
RasulNya pada kita.
“Tidak
perlu kenal bertahun-tahun, orang yang sudah mencintai Allah dengan mudah ia akan mencintai orang yang juga mencintai
Allah”
Cinta
karena Allah tidak akan pudar ditelan masa. Sebab Allah adalah zat yang maha
abadi. Dan selama cinta itu berlandaskan atas dasar cinta kepada Allah maka
cinta itupun akan abadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar