Label

Artikel (4) Puisi (4)

Sabtu, 16 Juni 2018

Ketika Muslimah Jatuh Cinta


Oleh : Maghfirah Taufiqa


Cinta adalah Fitrah, dan setiap anak adam pasti pernah merasakan namanya cinta. Baik tua maupun muda. Bahkan Nabi, para ulama dan orang shalih sekalipun pernah jatuh cinta.
Jatuh cinta itu perkara mubah dan bukanlah suatu dosa sebab ia adalah hal yang manusiawi dan naluri yang ada bagi setiap manusia normal. Termasuk para muslimah yang tertutup, pemalu, jarang berkomunikasi dengan ikhwan sekalipun juga merasakan perasaan cinta. Tetapi, ketika seorang muslimah telah jatuh cinta, ia malah merasa takut dan gelisah, karena bisa jadi perasaan itu hanya ujian baginya. Ia merasa bersalah karena telah menaruh hati pada seseorang yang belum halal baginya. Namun terkadang tak dapat di pungkiri memang bahwa perasaan itu datang tiba-tiba tanpa di undang. Hingga kadang kita terpedaya dengan rasa itu dan lupa kepada pemberi rasa. Cinta tidak salah dan tidak ada yang salah dari cinta. Namun bagaimana cara mengekspresikan cinta itu, dengan cara yang Allah Ridho atau dengan cara yang Allah Murkai. Berapa banyak muda-mudi zaman sekarang yang terlibat pacaran bahkan sampai berzina. Naudzubillah. Apakah seperti itu cinta? Tidak! Cinta seharusnya saling menjaga karena Allah, bukan malah melakukan sesuatu yang di larang olehNya.

Perkara Menjaga hati itu memang sebuah perjuangan yang tak terkira sulitnya. Terlebih bagi aktivis dakwah, terkadang tidak lepas dari yang namanya VMJ (Virus Merah Jambu). Virus-virus itu kian bertebaran di kalangan ikhwan dan akhwat. Kenapa itu bisa terjadi? Karena hijab itu tidak lagi kita jaga, interaksi antara ikhwan akhwat kian mencair dan ikhtilat pun terjadi dimana-nama. Namun itu adalah sebuah paranorma yang sulit kita cegah karena sudah hampir mewabah ke setiap penjuru. Maka yang harus kita lakukan adalah membentengi diri dengan iman. Sebab ia adalah pemisah antara yang haq dan yang batil. Namun bukanlah hal yang terlarang bagi seorang ikhwan dan akhwat jatuh cinta, itu normal. Terkadang seorang akhwat bisa kagum dengan seorang ikhwan karena kesholehannya, kewibawaannya, santunnya akhlaknya. Dan itu adalah hal yang wajar. Asalkan rasa itu tidak berlebihan dan tidak menyalahi aturannya.

Ketika akhwat sudah terlanjur menaruh hati kepada ikhwan akan sulit untuk menghilangkan rasa itu. Apalagi jika ikhwan itu benar-benar ikhwan idamannya. Terlebih jika ia tahu bahwa ikhwan itu juga menyukainya. Ah rasanya hatinya kian berbunga-bunga. Namun jika ternyata ikhwan yang dia sukai itu menyakitinya atau menyukai akhwat lain ia pasti akan patah hati. Begitulah seorang akhwat, perasaannya begitu rentan dan hatinya begitu rapuh. Karena akhwat lebih dominan memakai perasaan daripada ikhwan. ketika akhwat sudah patah hati itu adalah sebuah bencana baginya. Berapa banyak akhwat yang rapuh hanya gara-gara ikhwan bahkan ada akhwat yang sudah berhijrah dan memakai hijab syar’i kemudian menanggalkan hijab syar’i nya hanya gara-gara terobsesi dengan ikhwan.

Duhai muslimah, Berhati-hatilah dengan cinta!
Sebab ia bisa menjadi racun yang berbalut dengan madu. Awalnya terasa manis tetapi lama kelamaan bisa mematikan. Itulah cinta yang tidak di tempatkan sesuai dengan syariatNya. Jangan terlalu terpesona dengan ikhwan yang bagus tampangnya, suka memuji bahkan sampai memberi janji-janji. Karena bisa saja itu hanya modus. Ingat, ikhwan sholeh tidak akan pernah mempermainkan wanita, dia pasti akan memuliakannya. Dan ikhwan sejati tidak akan memberi janji-janji tetapi memberi kepastian. Kalau ada ikhwan yang menyatakan bahwa dia mencintaimu tetapi tidak ingin menikahimu itu hanyalah omong kosong. Sebab bukti cinta hanyalah dengan menikah. Sebagaimana sabda Rasulullah “Tidak ada obat bagi dua orang yang saling mencintai selain menikah”
Namun bagaimana jika belum mampu untuk menikah. Maka bersabarlah dan berpuasa serta mohonlah pada Allah agar di jauhkan dari hal-hal yang di larangnya.
“Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (‘Iffah diri)-nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karuniaNya.” (Q.S An. Nuur: 33)

Ketika Muslimah jatuh cinta, ia seharusnya bisa menjaga perasaan itu agar rasa itu tidak menjadi fitnah.
Ketika Muslimah jatuh cinta, ia seharusnya semakin taat kepada Allah karena takut terjerumus kedalam maksiat.
Ketika muslimah jatuh cinta, ia seharusnya menjauhi hal-hal yang di larang olehNya

Karena seorang muslimah punya Izzah dan Iffah yang harus selalu di jaga. Seorang muslimah harus punya rasa malu dan tidak berlebihan ketika di depan ikhwan. Tidak genit, kecentilan, apalagi berusaha untuk menggoda ikhwan yang disukainya. Jika seorang muslimah tidak lagi punya rasa malu dan tidak lagi bisa menghargai dirinya, maka bagaimana ia bisa dihargai oleh laki-laki? maka pandai-pandailah menjaga, sebab se-shalihah apapun seorang wanita ia tetap akan menjadi fitnah bagi laki-laki. Dan tempatkanlah cinta itu pada tempatnya, agar selamat dan tidak salah arah.

Cinta adalah anugerah
Merasakannya adalah fitrah
Menjaganya adalah ibadah
Karena jatuh cinta adalah mudah
Namun menyikapinya bisa menjadi pahala berlimpah
Atau malah menjatuhkan kita ke dalam dosa dan musibah
Karena cinta itu anugerah luar biasa
Aku memilih memuliakan cinta
Menjauhkannya dari cara-cara nista
Dan meletakkannya sesuai aturan sang pencipta

Kau tau? Tidak mudah menjadi sesosok Khadijah yang memilih untuk maju lebih dulu kepada nabi Muhammad
Kenapa beliau bisa seberani itu? Karena beliau takut cinta itu akan menjerumuskannya dan beliau memilih untuk menjaga cinta itu dalam ikatan yang halal.
Bagaimana jika seandainya Khadijah memilih diam dan menunggu Nabi Muhammad, atau beliau berpikir jika Muhammad tidak melamarnya maka pasti akan ada laki-laki yang datang melamarnya dan lebih baik dari Muhammad. Beliau pasti tidak akan pernah menemukannya sampai kapanpun. Karena siapa laki-laki yang lebih baik dan lebih hebat dari nabi Muhammad? Tidak ada! Bahkan sampai kiamatpun tidak ada lagi yang bisa menandingi beliau. Maka ibunda Khadijah tidak berpikir dua kali dan tidak mau menunggu tetapi beliau langsung maju untuk melamar Nabi Muhammad melalui sahabatnya.
Maka jikalau ada ikhwan yang kita ridho agama dan akhlaknya. Tidak masalah jika akhwat mengutarakannya lebih dulu, itu bukan suatu hal yang tercela. Karena jikalau kita sudah menemukan seorang ikhwan yang baik agamanya dan sesuai dengan kriteria kita, lalu kemudian kita berpaling dan mencoba mencari yang lebih baik darinya, kita mungkin tidak akan menemukannya lagi.

Ketika jatuh cinta kita di hadapkan oleh pilihan-pilihan. Mau berjuang ataukah mundur? Dan setiap insan punya cara berjuang masing-masing dan punya jalan cinta nya masing-masing. Ada yang berjuang dalam diam, ada yang berjuang dengan doa, ada yang berjuang dengan memantaskan diri dan ada yang berjuang dengan langsung maju.
Seperti kisah Ali dan Fatimah yang berjuang dalam diam. Mereka sama-sama saling mencintai namun saling menjaga dalam taat. Ketika Fathimah di pinang oleh lelaki yang luar biasa imannya, Abu Bakar Ash-Siddiq. Ali pun merasa di uji, namun ia merasa tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Abu Bakar. Maka ia pun mengutamakan Abu Bakar. Tetapi ternyata lamaran Abu Bakar di tolak. Betapa bahagianya Ali, namun ternyata ujian itu belum berakhir. Ternyata umar yang di juluki Al-Faruq pun datang melamar Fatimah. Maka Ali pun Ridha. Ternyata lamaran Umar pun ditolak.
Ali pun memberanikan diri menghadap Sang Nabi dan menyampaikan keinginannya untuk melamar Fathimah, Putri kesayangan Rasulullah. “Engkau Pemuda sejati Wahai Ali!, Ahlan Wa Sahlan!” Kata Rasulullah sambil tersenyum.
“Cinta tak pernah meminta untuk menanti, ia mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan” (Ali Bin Abi Thalib)
Ya beitulah sosok pemuda sejati, layaknya Ali bin Abi Thalib. Ia tak pernah meminta Fathimah untuk menanti, ia tak pernah memberikan janji-janji pada Fathimah. Tetapi ia terus memantaskan diri hingga layak untuknya. Walaupun hanya bermodalkan baju besi tetapi ia berani maju untuk melamar Fathimah. Itulah Keberanian sejati!

Berapa banyak ikhwan yang meminta akhwat untuk menunggu dan setelah akhwat itu menunggunya ternyata ia malah menikah dengan akhwat lain. Bisa di bayangkan betapa sakitnya hati akhwat tersebut. Tidak mudah bagi seorang akhwat untuk menunggu, karena dalam menunggu terkadang hatinya di landa cemas, gelisah, gundah. Dalam hatinya terus bertanya-tanya benarkah laki-laki yang dia tunggu benar-benar serius dengannya? Benarkah ia akan datang untuk melamarnya? Ketika akhwat sudah jatuh cinta kepada seorang ikhwan ia sanggup menunggu ikhwan itu sampai beberapa tahun sekalipun, sebab tak mudah baginya untuk membuka hati kepada sembarang ikhwan. Ya menunggu adalah sebuah pilihan, dan tidak salah jika kita menunggu seorang ikhwan yang kita anggap sholeh dan baik agamanya. Namun jangan sampai terlalu berharap padanya sebab jika kita terlalu berharap maka kita akan kecewa.

Berharaplah hanya pada Allah. Zat yang tak akan pernah mengecewakan hambanya. Jika memang kita tidak bisa bersama dengan orang yang selama ini kita harapkan maka Allah pasti akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Tidak mungkin jika kita mengharapkan ikhwan yang sholeh namun Allah memberikan seseorang yang buruk agamanya, suka mabuk-mabukan dll. Percayalah bahwa Allah tidak akan mendzalimi hambanya. Allah pasti akan memberikan yang sesuai dengan kita, karena jodoh adalah cerminan diri. Yang harus kita lakukan adalah memantaskan diri agar layak untuk diberikan pasangan yang baik.

“Perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula. Perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)

Percayalah dengan janji Allah. Bahwa Allah tidak akan mengecewakan orang yang taat padaNya, orang yang selalu menjaga dirinya dari hal-hal yang Allah murkai. Yang harus kita lakukan adalah taat dan berserah diri pada Allah, selanjutnya biarkanlah skenario Allah yang mengaturnya. Segala sesuatu akan indah pada waktu yang telah Dia tentukan. Kita hanya perlu bersabar menanti ketentuanNya dan menerimanya dengan penuh keikhlasan. Tunggulah cinta itu dengan ketaatan agar orang yang taat menjemputmu dengan cinta. Cintai Allah dan RasulNya terlebih dahulu agar Allah mengirimkan seseorang yang juga mencintai Allah dan RasulNya pada kita.

“Tidak perlu kenal bertahun-tahun, orang yang sudah mencintai Allah dengan mudah  ia akan mencintai orang yang juga mencintai Allah”

Cinta karena Allah tidak akan pudar ditelan masa. Sebab Allah adalah zat yang maha abadi. Dan selama cinta itu berlandaskan atas dasar cinta kepada Allah maka cinta itupun akan abadi.